Jumat, 23 Maret 2012

Rama Bocah Si Penjual Koran


Matahari seperti sedang marah kepada bumi hari ini, dari pagi sampai sesore ini ia terus menghangatkan bumi dengan sinar terangnya. Kalau mengikuti kata hati malas rasanya aku pergi kuliah karena pasti sangat panas dan harus berdesakan dijalan raya. Apalagi sekarang kota tanjungpinang sudah dipenuhi dengan kendaraan pribadi khususnya kendaraan roda dua yang menambah sesak jalan-jalan tanjungpinang.
Lampu merah kilometer 7 menghambat laju kendaraanku, dari kejauhan aku lihat seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah. Dia membiarkan tubuhnya kepanasan dengan tetap memegang erat gulungan dagangannya. "Koran pak", seru anak itu  berusaha menjajakan koran dagangannya. Dari balik kaca mobil- mobil yang sedang berbaris menunggu lampu hijau, dia terus berteriak berusaha menjual korannya, tetapi aku tak lihat ada satu orang pun yang membeli korannya.  Dalam hati aku merenung anak sekecil ini harus berpanas-panasan untuk menjual koran. Aku jadi ingat lagunya iwan fals yang judulnya “Tugu Pancoran”.
Setelah berkeliling akhirnya anak itu mendekati ku, “Koran bang” katanya menawarkan korannya padaku. “Ngak, dik”, jawabku. Ternyata aku kenal anak ini, Rama namanya anak yang tinggal di Tanjungunggat dan sekarang dia menjadi penjual koran untuk membiayai sekolahnya. Dia terpaksa bekerja karena ayahnya meninggal karena sakit baru-baru ini dan tidak ada lagi orang yang membiayainya.
Rama  menatap wajahku dengan tatapan yang sangat teduh dan aku bertanya kenapa dia tidak sekolah, “sekolah pagi bang”, jawabnya. Siswa kelas 5 SDN 003 Tanjungpinang ini masih sangat muda untuk bekerja, seharusnya yang menjadi kewajibannya hanyalah menuntut ilmu, tetapi keadaanlah yang memaksa dia harus bekerja sambil sekolah.
            ”Nggak bang, biasa aja. Saya senang dengan kerja gini”, jawabnya ketika aku tanya apa dia tidak kepanasan bekerja dibawah terik matahari sore itu. Aku masih saja terpana dan terus memandangi anak kecil yang melangkah pergi bersama jutaan makna dalam kesahajaannya. Bocah penjual koran itu memberi pesan berharga buat aku hari ini.

”Ternyata akulah yang lebih pantas dikasihani bukan Rama, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari dan mensyukuri segala yang ada didalamnya” batin ku.

Selasa, 20 Maret 2012

Bung Tomo Bakar Surabaya


Aksi Bung Tomo saat pidato
TANJUNGPINANG ( MAB) - “ Merdeka atau Mati “ teriak bung Tomo ketika  berpidato kepada para pejuang untuk membela tanah air, disaat Inggris memberikan ultimatum kepada bangsa Indonesia untuk menyerah.
        
Beliau berpidato di depan Ribuan pemuda Surabaya berkumpul di lapangan Benteng Pada 10 November. Pidato yang di sampaikan oleh Bung Tomo  untuk melakukan reformasi pada para pemuda Surabaya agar rakyat Indonesia bangkit dari penjajahan Inggris yang akan menyerang Bangsa Indonesia  agar dapat mempertahankan kedaulatan dan mempejuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Begitu besar jiwa dan rasa nasionalisme seorang  Bung Tomo sehingga mampu membakar dan mengobarkan ribuan semangat   para pemuda Surabaya lewat pidatonya.

 Berbagai Organisasi perjuangan  yang telah dibentuk masyarakat juga hadir, termasuk dikalangan pemuda, Mahasiswa dan Pelajar, beserta Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ) sebagai alat negara yang telah dibentuk untuk melakukan genjatan senjata. Pidato yang bung Tomo lontarkan memberikan semangat Nasinalisme yang tinggi dalam membela tanah air Indonesia. “ Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah, yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapa pun juga “ tegas bung Tomo (25) ketika berpidato yang sekaligus memberikan jawaban kepada Inggris untuk genjatan senjata.

Dalam pidatonya Bung Tomo mengatakan, “ bahwa kita pasti akan menang dari perperangan ini karena Allah selalu berpihak kepada yang benar dan kita yakin bahwa Allah akan melindungi kita semua. Bung Tomo meneriakkan,  Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar dengan suara yang begitu lantang dan penuh semangat. Sampai sekarang pidato Bung Tomo ini  masih dikenang oleh rakyat Indonesia dan sering dijadikan lomba pidato dalam rangka memperingati hari pahlawan betepatan 10 November 1945. (bud)

Senin, 19 Maret 2012

Kepolisian Awasi SPBU

2 anggota polisi yang sedang mengawasi SPBU


TANJUNGPINANG ( M A B)  - Kepolisian Polres Tanjungpinang melakukan razia di sejumlah SPBU di Tanjungpinang guna mengantisipasi terjadinya penimbunan Bahan  Bakar Minyak (BBM) jelang kenaikan harga, selain itu polisi juga melakukan penggeledahan terhadap  kendaraan  yang di curigai. Anggota polisi melakukan pemeriksaan  di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada tanjungpinang hal ini dilakukan polisi untuk mengantisipasi terjadi penimbunan dan pembelian bahan bakar minyak dalam jumlah banyak yang dilakukan oleh opnum sehingga menyebabkan kelangkaan BBM, dari 6 spbu yang ada di tanjungpinang salah satunya SPBU yang ada di kilometer 3 mendapatkan pemeriksaan ketat oleh aparat kepolisian karena SPBU ini selalu ramai dan berada berada di tengah kota tanjungpinang.
Pengawasan ini memfokuskan kepada pembeli di SPBU dan polisi juga melakukan penggeledahan terhadap sejumlah kendaraan yang mencurigakan, tak hanya merazia kendaraan yang membeli BBM, polisi juga melakukan pengawasan terhadap petugas SPBU tindakan ini dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada pembelidan melakukan pengawasan jika ada yang petugas yang berbuat nakal
“ kita awasi semuanya kita antisipasi jangan sampai ada pembeli yang membeli dalam jumlah yang banyak untuk mencegah kelangkaan” ungkap Bripka. Munte. (Bud)


polisi sedang menggeledah kendaraan yang dicurigai




 








Jumat, 09 Maret 2012

Keluhan Supir Terhadap Rencana Kenaikan BBM


Keluhan Supir Terhadap Rencana Kenaikan BBM
Hasan sedang menunggu penumpang
 Rencana pemerintah untuk menaikan harga BBM awal april ini telah meresahkan seluruh komponen masyarakat kita terutama bagi yang mencari nafkah dengan menggunakan BBM seperti supir angkot. Rencananya harga BBM akan dinaikan dari RP. 4500 menjadi Rp. 6000. kebijakan yang tidak populis ini akan menambah beban oprasional para supir dan  mau tidak mau para supir ini terpaksa menaikan tarif angkutan kotanya, “ Macam  mana lagi terpaksa kami naikan  ongkos ” kata Hasan seorang supir  yang mangkal di jalan merdeka ini.
Para supir khawatir  kondisi ini akan membuat mata pencarian mereka jadi tambah sulit.  Langkah menaikan tarif ini tentu saja akan  memberikan dampak langsung terhadap pendapatkan supir angkutan kota ini yakni penumpang mereka akan tambah berkurang dan akan lebih memilih menggunakankan sepeda motor mereka “ Pastilah saya khawatir, penumpang pasti akan lebih memilih naik motor mereka, tambah  sepi ajalah  rejeki kami ” tambah nya lagi.
Antrian angkot di jalan merdeka

Kenaikan harga BBM selain membani biaya oprasional juga akan mengurangi pendapatan para supir. Para supir berharap agar pemerintah memperhatkan nasib mereka dengan memberikan subsidi khusus, “ Ya kami ingin mereka (pemerintah) kasihani kami lah” harap  Hasan.

Rabu, 29 Februari 2012

MIMPI PECUNDANG



Kalau saja Kau ijinkan aku
Tuhan
 ijinkan aku Tuhan untuk
Merajai hati betina bermata hijau itu
Ijinkan aku
Kan ku pikat ia dengan  muslihat
Sampai terpikat
Kan ku jerat ia dengan maksiat
Hingga terjerat
Kan ku ikat ia dengan sebuah kata sinonim nafsu
Cinta
Hingga ia lekat melekat erat padaku
Lalu
kuhisap ia
Bak kumbang liar lapar dapatkan bunga mekar
Ku nikmati hingga ia dapat menikmati  
Sampai ku nikmati wajah berahinya

Lalu
Kan ku gali ia
Seperti cacing  kepanasan menggali liat
Kunikmati hingga ia candu menikmati
Sampai terdengar desahnya desahku
Ahhhhhhhh…..

Puas  ku hisap kugali kunikmati betina mata hijau itu
Puas aku aku puas
Apa aku puas ?
Belum betina belum
Kuingin lihat ratap sesal mu betina
 saat ku tinggal kau
seperti saat kau kau tinggalkan ku
setelah puas ku nikmati kau
sekarang menangislah betina 
karena air matamu
memuaskan dendam ku
tapi ini Cuma mimpi
andai saja
Kau ijinkan aku Tuhan
ijinkan aku

Selasa, 28 Februari 2012

Pembuatan Minyak Kelapa Hemat Energi

 

Harga minyak kelapa sawit yang melambung tinggi sekarang ini, mendorong para peneliti IPB untuk berkontribusi dalam memikirkan permasalahan ini. Salah satu usahanya yaitu dengan kembali memanfaatkan kelapa sebagai sumber minyak goreng. Adapun Dr. Ir. Sugiyono, M.AppSc, pakar sekaligus Dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) IPB, membuat minyak kelapa hemat energi. Caranya pun mudah, laki-laki ini hanya menambahkan ragi roti dalam salah satu proses pembuatannya.


Secara tradisional, masyarakat mengolah kelapa menjadi minyak melalui tahapan pemanasan yang relatif lama. Hal ini berimbas kepada pemborosan penggunaan bahan bakar serta minyak yang dihasilkan cepat mengalami ketengikan. Maka dibuatlah minyak goreng hemat energi sebagai alternatif bagi masyarakat di pedesaan terutama pemilik kebun kelapa.

Banyak sekali kelebihan dari minyak kelapa hemat energi ini. Seperti misalnya, tidak gampang tengik, mempunyai aroma yang harum, cara pembuatan yang cepat dan mudah, serta lebih sehat bila dibandingkan dengan minyak kelapa sawit. Hal ini terungkap saat dilakukan wawancara langsung dengan Dr. Sugiyono di Kampus IPB Darmaga Bogor (20/7).

"Karena hanya dipanaskan selama 10-15 menit, maka minyak yang dihasilkan tidak gampang tengik, selain itu, dia mempunyai aroma yang khas. Selain tidak membutuhkan pemanasan yang lama, minyak kelapa lebih sehat daripada minyak sawit, kenapa?karena minyak kelapa mempunyai rantai Asam Lemak Laurat yang lebih pendek sehingga lebih mudah untuk di metabolisme." Ujarnya dihadapan beberapa wartawan baik elektronik maupun cetak.

Menurutnya, pembuatan minyak kelapa ini akan lebih banyak membantu petani yang punya kelapa di kebunnya, daripada hasil kelapanya dijual ke pasar dengan harga per butirnya 200-300 rupiah saja, maka akan lebih mempunyai nilai tambah apabila masyarakat desa bisa membuat minyak kelapa hemat energi ini. Bandingkan saja, untuk membuat 1 liter minyak kelapa ini, hanya dibutuhkan sekitar 20 butir kelapa kecil. Berarti, modal awal hanya 6000-7000 rupiah sedangkan harga minyak di pasaran berkisar 9000 rupiah.

Sementara itu, cara pembuatannya pun tergolong mudah. Yaitu, daging buah kelapa diparut untuk diambil santannya. Setelah itu santan yang diperoleh dibiarkan selama 1 jam sehingga terbentuk 3 lapisan yaitu lapisan atas berupa minyak, lapisan tengah berupa protein dan lapisan bawah yang isinya air. Kemudian lapisan atas dan lapisan tengah diambil sedangkan lapisan bawah dibuang.

Selanjutnya, campuran lapisan atas dan lapisan tengah ditambahkan dengan ragi roti sebanyak 1.5 gram atau satu sendok teh untuk setiap 1 kg kelapa parut lalu diaduk. Campuran dibiarkan selama 5-6 jam (proses ini disebut pemeraman atau peragian). Setelah terbentuk 3 lapisan seperti diatas, proses kemudian dilanjutkan dengan memanaskan 2 lapisan atas yaitu lapisan minyak dan lapisan proteinnya selama 10 menit.

Dalam pemanasan ini, terjadi penguapan air dan protein menggumpal (disebut galendo). Lalu minyak disaring dan galendo diperas. Untuk meminimalkan air yang masih terkandung didalamnya, minyak dapat dipanaskan lagi selama 5 menit.

Masih ada satu keuntungan lagi yaitu, lapisan bawah hasil pemeraman yang berupa air dapat digunakan kembali sebagai sumber ragi untuk proses pembuatan minyak berikutnya. Menurut Sugiyono, air ini hanya dapat digunakan sebanyak 4 kali, setelah itu sudah tidak dapat dikompromikan lagi.

"Proses ini menghasilkan minyak sebanyak 15 % dari berat kelapa parut yang diolah. Dan minyak yang dihasilkan sudah memenuhi standar mutu minyak goreng Indonesia." Tambahnya.





Versi lainnya

Minyak kelapa merupakan bagian paling berharga dari buah kelapa. Kandungan minyak pada daging buah kelapa tua adalah sebanyak 34,7%. Minyak kelapa digunakan sebagai bahan baku industri, atau sebagai minyak goreng. Minyak kelapa dapat diekstrak dari daging kelapa segar, atau diekstrak dari daging kelapa yang telah dikeringkan (kopra). Untuk industri kecil yang terbatas kemampuan permodalannya, disarankan mengekstrak minyak dari daging buah kelapa segar. Cara ini mudah dilakukan dan tidak banyak memerlukan biaya. Kelemahannya adalah lebih rendahnya rendemen yang diperoleh.

A. Santan Kelapa

Santan kelapa merupakan cairan hasil ekstraksi dari kelapa parut dengan menggunakan air. Bila santan didiamkan, secara pelan-pelan akan terjadi pemisahan bagian yang kaya dengan minyak dengan bagian yang miskin dengan minyak. Bagian yang kaya dengan minyak disebut sebagai krim, dan bagian yang miskin dengan minyak disebut dengan skim. Krim lebih ringan dibanding skim, karena itu krim berada pada bagian atas, dan skim pada bagian bawah.

B. Prinsip Pengolahan

Minyak diambil dari daging buah kelapa dengan salah satu cara berikut, yaitu:

1) Cara basah

2) Cara pres

3) Cara ekstraksi pelarut

1) Cara Basah

Cara ini relatif sederhana. Daging buah diparut, kemudian ditambah air dan diperas sehingga mengeluarkan santan. Setelah itu dilakukan pemisahan minyak pada santan. Pemisahan minyak tersebut dapat dilakukan dengan pemanasan, atau sentrifugasi.
Pada pemanasan, santan dipanaskan sehingga airnya menguap dan padatan akan menggumpal. Gumpalan padatan ini disebut blando. Minyak dipisahkan dari blando dengan cara penyaringan. Blando masih banyak mengandung minyak. Minyak ini dicampur dengan minyak sebelumnya. Cara basah ini dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang biasa terdapat di dapur keluarga.

Pada sentrifugasi, santan diberi perlakuan sentrifugasi pada kecepatan 3000-3500 rpm. Sehingga terjadi pemisahan fraksi kaya minyak (krim) dari fraksi miskin minyak (skim). Selanjutnya krim diasamkan, kemudian diberi perlakuan sentrifugasi sekali lagi untuk memisahkan minyak dari bagian bukan minyak.
Pemisahan minyak dapat juga dilakukan dengan kombinasi pemanasan dan sentrifugasi. Santan diberi perlakuan sentrifugasi untuk memisahkan krim. Setelah itu krim dipanaskan untuk menggumpalkan padatan bukan minyak. Minyak dipisahkan dari bagian bukan minyak dengan cara sentrifugasi.

Minyak yang diperoleh disaring untuk memperoleh menyak yang bersih dan jernih.

1. Cara Basah Tradisional.

Cara basah tradisional ini sangat sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang biasa terdapat pada dapur keluarga. Pada cara ini, mula-mula dilakukan ekstraksi santan dari kelapa parut. Kemudian santan dipanaskan untuk menguapkan air dan menggumpalkan bagian bukan minyak yang disebut blondo. Blondo ini dipisahkan dari minyak. Terakhir, blondo diperas untuk mengeluarkan sisa minyak.

2. Cara Basah Fermentasi.

Cara basah fermentasi agak berbeda dari cara basah tradisional. Pada cara basah fermentasi, santan didiamkan untuk memisahkan skim dari krim. Selanjutnya krim difermentasi untuk memudahkan penggumpalan bagian bukan minyak (terutama protein) dari minyak pada waktu pemanasan. Mikroba yang berkembang selama fermentasi, terutama mikroba penghasil asam. Asam yang dihasilkan menyebabkan protein santan mengalami penggumpalan dan mudah dipisahkan pada saat pemanasan.

3. Cara Basah Lava Process.

Cara basah lava process agak mirip dengan cara basah fermentasi. Pada cara ini, santan diberi perlakuan sentrifugasi agar terjadi pemisahan skim dari krim. Selanjutnya krim diasamkan dengan menambahkan asam asetat, sitrat, atau HCI sampai pH4. Setelah itu santan dipanaskan dan diperlakukan seperti cara basah tradisional atau cara basah fermentasi. Skim santan diolah menjadi konsentrat protein berupa butiran atau tepung.

4. Cara Basah "Kraussmaffei Process".

Pada cara basah ini, santan diberi perlakuan sentrifugasi, sehingga terjadi pemisahan skim dari krim. Selanjutnya krim dipanaskan untuk menggumpalkan padatannya. Setelah itu diberi perlakuan sentrifugasi sehingga minyak dapat dipisahkan dari gumpalan padatan. Padatan hasil sentrifugasi dipisahkan dari minyak dan dipres untuk mengeluarkan sisa minyaknya. Selanjutnya, minyak disaring untuk menghilangkan kotoran dan padatan. Skim santan diolah menjadi tepung kelapa dan madu kelapa. Setelah fermentasi, krim diolah seperti pengolahah cara basah tradisional.

2) Cara Pres.

Cara pres dilakukan terhadap daging buah kelapa kering (kopra). Proses ini memerlukan investasi yang cukup besar untuk pembelian alat dan mesin. Uraian ringkas cara pres ini adalah sebagai berikut:

1. Kopra dicacah, kemudian dihaluskan menjadi serbuk kasar.

2. Serbuk kopra dipanaskan, kemudian dipres sehingga mengeluarkan minyak. Ampas yang dihasilkan masih mengandung minyak. Ampas digiling sampai halus, kemudian dipanaskan dan dipres untuk mengeluarkan minyaknya.

3. Minyak yang terkumpul diendapkan dan disaring.

4. Minyak hasil penyaringan diberi perlakuan berikut:

-Penambahan senyawa alkali (KOH atau NaOH) untuk netralisasi (menghilangkan asam lemak bebas).

-Penambahan bahan penyerap (absorben) warna, biasanya menggunakan arang aktif agar dihasilkan minyak yang jernih dan bening.

-Pengaliran uap air panas ke dalam minyak untuk menguapkan dan menghilangkan senyawa-senyawa yang menyebabkan bau yang tidak dikehendaki.

5. Minyak yang telah bersih, jernih, dan tidak berbau dikemas di dalam kotak kaleng, botol plastik atau botol kaca.

3) Cara Ekstraksi Pelarut.


Cara ini menggunakan cairan pelarut (selanjutnya disebut pelarut saja) yang dapat melarutkan minyak. Pelarut yang digunakan bertitik didih rendah, mudah menguap, tidak berinteraksi secara kimia dengan minyak dan residunya tidak beracun. Walaupun cara ini cukup sederhana, tapi jarang digunakan karena biayanya relatif mahal. Uraian ringkas cara ekstraksi pelarut ini adalah sebagai berikut:

1. Kopra dicacah, kemudian dihaluskan menjadi serbuk.

2. Serbuk kopra ditempatkan pada ruang ekstraksi, sedangkan pelarut pada ruang penguapan. Kemudian pelarut dipanaskan sampai menguap. Uap pelarut akan naik ke ruang kondensasi. Kondensat (uap pelarut yang mencair) akan mengalir ke ruang ekstraksi dan melarutkan lemak serbuk kopra. Jika ruang ekstraksi telah penuh dengan pelarut, pelarut yang mengandung minyak akan mengalir (jatuh) dengan sendirinya menuju ruang penguapan semula.

3. Di ruang penguapan, pelarut yang mengandung minyak akan menguap, sedangkan minyak tetap berada di ruang penguapan. Proses ini berlangsung terus menerus sampai 3 jam.

4. Pelarut yang mengandung minyak diuapkan. Uap yang terkondensasi pada kondensat tidak dikembalikan lagi ke ruang penguapan, tapi dialirkan ke tempat penampungan pelarut. Pelarut ini dapat digunakan lagi untuk ekstraksi. penguapan ini dilakukan sampai diperkirakan tidak ada lagi residu pelarut pada minyak.

5. Selanjutnya, minyak dapat diberi perlakuan netralisasi, pemutihan dan penghilangan bau. Pada pengolahan minyak yang akan diterangkan di bawah ini dipilihkan cara basah fermentasi karena biayanya cukup murah dan dapat dilakukan dengan mudah.



C. BAHAN

1) Kelapa

2) Ragi tapai

D. PERALATAN

1. Mesin parut. Mesin ini digunakan untuk memarut daging buah kelapa. Mesin ini mempunyai konstruksi yang sederhana, relatif murah, mudah dioperasikan dan mudah dirawat. Mesin ini biasa digunakan oleh pedagang kelapa yang menyediakan jasa pemarutan kelapa di pasar-pasar.

2. Alat pemeras santan. Alat ini digunakan untuk memera santan dari kelapa parut. Alat ini dibuat dari dongkrak hidrolik, kemudian dirakit.

3. Wadah pemisah skim. Wadah ini digunakan untuk memisahkan skim dari krim santan. Dianjurkan menggunakan wadah yang tembus cahaya agar pemisahan skim dari krim dapat diamati. Untuk itu dapat digunakan botol air minum kemasan galon.

4. Tungku. Tungku digunakan untuk memanaskan krim sehingga terjadi pemisahan minyak dari bagian bukan minyak.



E. CARA PEMBUATAN

1. Daging buah kelapa diparut. Hasil parutan (kelapa parut) dipres sehingga mengeluarkan santan. Ampas ditambah dengan air (ampas : air = 1 : 0,2) kemudian dipres lagi. Proses ini diulangi sampai 5 kali. Santan yang diperoleh dari tiap kali pengepresan dicampur menjadi satu.

2. Santan dimasukkan ke dalam wadah pemisah skim selama 12 jam. Setelah terjadi pemisahan, kran saluran pengeluaran dari wadah pemisah dibuka sehingga skim mengalir keluar dan menyisakan krim. Kemudian krim ini dikeluarkan dan ditampung pada wadah terpisah dari skim.

3. Krim dicampur dengan ragi tapai (krim : ragi tapai = 1 : 0,005, atau 0,05%). Selanjutnya, krim ini dibiarkan selama 20-24 jam sehingga terjadi proses fermentasi oleh mikroba yang terdapat pada ragi tapai.

4. Krim yang telah mengalami fermentasi dipanaskan sampai airnya menguap dan proteinnya menggumpal. Gumpalan protein ini disebut blondo. Pemanasan ini biasanya berlangsung selama 15 menit.

5. Blondo yang mengapung di atas minyak dipisahkan kemudian dipres sehingga mengeluarkan minyak. Minyak ini dicampurkan dengan minyak sebelumnya, kemudian dipanaskan lagi selama 5 menit.

6. Minyak yang diperoleh disaring dengan kain kasa berlapis 4. Kemudian minyak diberi BHT (200 mg per kg minyak).

7. Minyak dikemas dengan kotak kaleng, botol kaca atau botol plastik.